Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Online Coupons
Rifka Annisa Women's Crisis Center

Blog EntryJan 19, '12 3:59 AM
for everyone


Remaja dan persahabatan, dua hal tersebut memang senantiasa beriringan. Dunia remaja tidak bisa dilepaskan dari dinamika pertemanan yang mereka jalani di kehidupan sehari-hari. Salah satunya tentang pacaran. Masa puber seperti mereka adalah waktunya untuk saling mengenal satu sama lain. Kemudian dari keakraban itu bisa terjalin hubungan yang lebih dekat lagi, seperti misalnya pacaran. Tapi tahukah bahwa membangun sebuah konsep diri itu penting sebelum kita menjalani komitmen dengan orang lain?

Hal itulah yang terungkap dalam talkshow yang diadakan Rifka Annisa, Senin (2/1), sebagai bagian dari rangkaian acara Grebeg Buku Jogja 2011 di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama. Mengambil tema “Cenat-Cenut dalam Pacaran”, Rifka Annisa coba mengulas secara mendalam permasalahan seputar Kekerasan Dalam Pacaran (KDP). Hadir sebagai pembicara Mei Shofia Romas, Psikolog sekaligus Direktur Rifka Annisa, serta Sylvi Dewajani, dosen Fakultas Psikologi UGM.

Faktanya, selama tahun 2011 terdapat 347 kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani Rifka Annisa. Dari angka tersebut, sebanyak 41 kasus merupakan kekerasan dalam pacaran. KDP juga merupakan kasus kedua terbanyak yang masuk ke Rifka Annisa setelah kasus Kekerasan Terhadap Istri (KTP). Tapi ironisnya, istilah KDP, atau permasalahan kekerasan dalam pacaran ini masih belum banyak diketahui oleh khalayak. Sementara perkembangan pergaulan remaja saat ini kian aktif, termasuk secara seksual.

Banyak alasan mengapa persoalan KDP masih belum terangkat ke permukaan. Menurut Shofi, ini disebabkan adanya rasa takut apabila seseorang tersebut melaporkan kekerasan dari sang pacar yang dialaminya. Umumnya mereka takut akan diteror, diganggu, diancam, dan sebagainya. Selain itu, kata Shofi, kasus KDP selalu dimaknai dengan pemakluman. Artinya apabila mendapat kekerasan atau perlakuan tidak menyenangkan dari sang pacar, pasangan tersebut biasanya akan memaafkan. Apalagi ditambah janji manis bahwa kesalahan yang terjadi tidak akan diulangi lagi. Situasinya pun menjadi tidak mudah terutama bagi si perempuan.

“Padahal pola dalam pacaran bisa terbawa ke dalam kehidupan rumah tangga. Proses kekerasan dapat muncul sedini mungkin, termasuk sejak pasangan tersebut berpacaran,” tuturnya. Ini berkaitan dengan bagaimana seseorang memandang dirinya maupun pasangannya. Ada perasaan memiliki ketika seseorang tersebut berpacaran. Rasa seperti itulah yang akhirnya bertransformasi menjadi tabiat untuk menguasai. Seorang pasangan merasa memiliki wewenang untuk mengatur pasangannya yang lain. Dari sinilah kemudian kekerasan tersebut timbul.

Konsep Diri dalam Membina Hubungan

Untuk itu, menurut Sylvi, diperlukanlah sebuah konsep diri yang matang. Konsep diri sendiri terbagi menjadi dua, yakni konsep diri positif dan konsep diri negatif. Yang perlu dikembangkan adalah konsep diri yang positif, yaitu saat kita berhasil dan mampu memaknai diri sendiri. Sylvi menambahkan, kita, khususnya para remaja, seringkali lupa untuk bersahabat dengan diri sendiri. Kita terlalu sibuk untuk membangun pertemanan dengan orang lain, tanpa memulainya dengan berteman pada diri kita sendiri. Maka sebelum kita membangun relasi dengan orang lain, ada baiknya kita memupuk persahabatan dengan diri sendiri terlebih dahulu. Apabila kita sudah bisa menghargai diri sendiri, maka kita pun juga akan bisa untuk menghargai orang lain.

Lebih lanjut Sylvi menekankan, konsep diri senantiasa berkembang dalam diri manusia. “Konsep diri dipengaruhi oleh pola asuh orangtua, yakni didikan orangtua pada anak laki-laki dan perempuan. Seringkali perempuan cenderung diajarkan untuk menjadi pribadi yang penurut dan patuh dalam keluarga. Sebaliknya laki-laki hanya dididik konsep maskulinitas negatifnya, yakni menitikberatkan pada fisik dan menomorduakan tingkah laku,”  paparnya.

Lantas bagaimanakah cara untuk membangun konsep diri yang positif tersebut? Menurutnya, ada tiga langkah yang bisa dilakukan untuk mewujudkannya. Pertama, kenali diri kita terlebih dahulu. Manusia selalu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam dirinya. Maka, kita harus mengidentifikasi mana sesuatu yang menjadi kelebihan kita dan mana yang menjadi kekurangan. Kedua, menerima diri kita apa adanya. Cari sisi positif dan menarik dari diri kita. Kebanyakan remaja selalu mencari kesalahan dan hal-hal negatif yang mereka punya. Padahal banyak juga hal potensial yang terpendam di dalam diri apabila kita mau menggalinya. Ketiga, kemampuan mengetahui sifat. Kita hendaknya menerima sifat-sifat yang ada pada diri kita. Baik itu yang baik maupun yang tidak baik. Sifat yang baik kita pertahankan, sedangkan yang kurang baik perlahan kita hapuskan dan mengubahnya menjadi sifat yang lebih menyenangkan.

Intinya, kita harus bersyukur dengan segala hal yang kita punyai dalam diri kita. Dengan begitu kita dapat menciptakan hubungan pertemanan yang baik satu sama lain. Pacaran yang sehat adalah apabila kita tetap mampu untuk berkarya dan mengembangkan diri kita. Bukan malah menjadi posesif, tidak saling menghormati, bahkan mendominasi. Mampu untuk mengendalikan ego dan dapat mengatur emosi sedemikian rupa, itulah sisi-sisi positif yang hendaknya diaplikasikan, sehingga komitmen pacaran tidak menjadi disalah artikan.


Add a Comment